Artikel
SEJARAH DESA BETITING
Pada Jaman dahulu pada era kekuasaan Kerajaan Majapahit terjadi konflik perebutan wilayah kekuasaan sehingga terjadi peperangan, yang mengakibatkan banyak sekali prajurit yang gugur dan Kocar - kacir berlarian menyelamatkan diri dari arena peperangan. sebagian dari mereka berkelompok dan berkumpul di sebuah tempat dekat pinggiran hutan kecil yang dinamakan "Alas Jurit" (Hutan Prajurit).
Pada waktu itu banyak dari kelompok prajurit yang terluka, dengan kondisi suasana yang sangat gelap gulita karena telah larut malam, dengan kondisi mereka tidak mempunyai penerangan akhirnya salah satu pemimpin mereka mendatangi kepala kuwu yang ada disekitar hutan tersebut, dengan tujuan meminta bantuan penerangan. agar penduduk/warga setempat mempersiapkan dan membawa alat penerangan sebagai penunjuk arah ke dalam hutan untuk mencari tempat yang aman sebagai persingahan sementara. Adapun alat untuk penerangan yang dimaksud pada waktu itu adanya sebuah bunga rumput mbet yang berbentuk seperti colok (obor) yang dikeringkan dan bisa dibakar. dalam penyebutan pada waktu itu adalah "Thing" atau lampu. dengan segera kepala kuwu memberikan informasi berkeliling dukuh sambil berteriak teriak dengan bahasa jawa "Mbeto Thing .... Mbeto Thing .... Mbeto Thing" (Bawa Lampu Penerangan .... Bawa Lampu Penerangan .... Bawa Lampu Penerangan).
Dengan seiring perkembangan jaman, dukuh yang ada lokasi sekitar hutan "Alas Jurit" tersebut dikenal sebagai DUKUH BETITING ( pemberi penerangan ) yang saat ini nama itu melekat dan menjadi abadi sampai sekarang.
Kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Dini Skala Rumah Tangga, KKN Kelompok 16 - Desa Betiting, Cerme, Gresik
Serunya Lomba Bank Sampah dan Taman Toga di Desa Betiting, Cerme, Gresik, 39 Peserta Adu Kreasi

